Tugas Final Mk Perilaku Konsumen

Tugas Final Mk Perilaku Konsumen


NAMA : RIZKI NURWAHYUDIN
NIM :17120011
PRODI : EKONOMI MANAJEMEN
MK : PERILAKU KONSUMEN


Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku Konsumen


1. Budaya

Budaya yang digunakan dalam perilaku konsumen mengacu pada nilai, gagasan,artefak dan simbol-simbol lain yang bermakna yang membantu individu untuk berkomunikasi, melakukan penafsiran serta evaluasi yang terjadi didalam masyarakat. Pemasaran dipandang sebagai saluran dimana terjadinya transfer makna budaya kepada konsumen fantasic inflatable water park.
Menurut Philip Kotler dan AB. Susanto, menyatakan bahwa Faktor budaya dipengaruhi oleh :

a. Budaya
Yaitu budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar. Anak-anak mendapatkan kumpulan nilai, persepsi,preferensi dan perilaku dari keluarganya serta lembaga-lembaga penting lain.

b. Subbudaya
Masing-masing budaya terdiri atas subbudaya yang lebih kecil yang memberikan lebih banyak ciri dan sosialisasi khusu bagi anggota-anggotanya.Subbudaya terdiri atas kebangsaaan, agama, kelompok ras dan daerah geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuha konsumen (Rangkuti, 2002 :98)


2. Kelas Sosial

Kelas sosial adalah pembagian didalam masyarakat berdasarkan kelas sosial yang terdiri dari individu yang mempunyai nilai, minat dan perilaku yang sama. Konsumen dibedakan atas perbedaan sosial ekonomi yang didasarkan pada tingkat yang paling rendah hingga paling tinggi. Status sosual menghasilkan perilaku konsumen yang didasarkan pada produk yang dikonsumsi, misalnya kendaraan yang dipakai, merk pakaian yang dipakai,dsbnya.

Kelas sosial dan stratifikasi sosial terbentuk karena sistem kasya yang berbeda yang dibesarkan dalam peran tertnetu dan tidak dapat mengubah kasta mereka.Stratifikasi tersebut sering ditemukan dalam bentuk kelas sosial. Kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang bersifat relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan anggotanya menganut nilai, minat dan perilaku yang serupa. (Rangkuti, 2002 : 98)

Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan tetapi juga indikator lain, seperti pekerjaan, pendidikan dan tempat tinggal. Kelas sosial berbeda dalam hal busana, cara berbicara, preferensi rekreasi dan ciri-ciri lain.


3. Pengaruh pribadi

Sebagai konsumen, perilaku kita kerap dipengaruhi oleh orang-orang yang berada disekitar kita. Konsumen dipengaruhi oleh pendapat pribadi dari orang-orang yang berada disekitarnya, bahkan peran opinion leader yang memberikan nasihat, saran dan masukan kepada konsumen berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam proses pembelian.


4. Keluarga

Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan telah menjadi penelitian yang luas.Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak kerap menjadi unit pengambilan keputusan yang utama. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Keluarga yang terdiri atas ayah,ibu dan saudara kandung mendapatkan orientasi atas agama, politik dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Bahkan, jika pembeli tidak lagi berinteraksi secara mendalam dengan keluarganya, pengaruh keluarga terhadap perilaku pembeli tetap signifikan. Pengaruh yang lebih langsung terhadap perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi, yaitu pasangan dan anak-anak. (Rangkuti, 2002 :100).


5. Situasi

Perilaku konsumen dapat berubah, kadangkala perubahan ini bisa tidak menentu dan tidak dapat diramalkan, sehingga perubahan ini dapat diprediksi dengan menggunakan penelitian dan dimanfaatkan sebagai strategi. Misalnya Pembelian pakaian akan meningkat pada hari raya Idul Fitri,Natal,dsbnya.


Pengaruh Perbedaan Individu Terhadap Perilaku Konsumen


Faktor internal yang dapat mempengaruhi konsumen adalah Sumber daya Konsumen,Motivasi dan Keterlibatan, Pengetahuan,Sikap serta kepribadian, gaya hidup dan demografi.

1. Sumber daya Konsumen
Konsumen mempunyai tiga sumber daya dalam setiap pengambilan keputusan, yaitu:
a. Waktu
b. Uang
c. Perhatian (penerimaan informasi dan kemampuan pengolahan).

Misalnya wanita karier yang sibuk kerja, dimana dia sebagai seorang istri dan seorang ibu,akan memiliki pendapatan yang cukup besar untuk pembelian yang berupa pakaian ataupun peralatan rumah tangga yang mahal harganya,namun ada pembatasan dalam hal ketersediaan waktu untuk berbelanja serta mengalokasikan perhatian pada informasi mengenai produk yang akan dibelinya nanti Water Park.


2. Motivasi dan keterlibatan

Motivasi adalah motor yang menggerakan konsumen, serta membangkitkan dan mengarahkan perilaku konsumen pada arah dan tujuan tertentu. Terdapat motif rasional dan motif emosional.


3. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil ataupun proses yang didapat melalui proses belajar serta proses dalam memahami informasi yang sudah tersimpan dalam benak konsumen.


4. Sikap

Sikap merupajan suatu evaluasi yang bersifat menyeluruh yang memungkinkan seseorang memberikan respon dalam bentuk respon yang bersifat menguntungkan dan yang tidak menguntungkan terhadap sesuatu hal. Sikap konsumen berkaitan dengan sikap positif dan negatif terhadap merek produk tertentu.


5. Kepribadian, gaya hidup dan demografi

Kepribadian (personality) dikaitkan dengan citra sebuah merek, dimana produk juga mempunyai kepribadian sebuah merek, kepribadian disini berupa keberanian, kelembutan, kejantanan, dsbnya.

Demografi adalah pembagian sasaran berdasrkan pangsa konsumen, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, jenis kelamin, dsbnya.


Pengaruh Proses Psikologis Terhadap Perilaku Konsumen


Untuk memutuskan produk mana yang dibeli seseorang cenderung melakukan pertimbangan. Pertimbangan ini dasarnya banyak, bisa dikarenakan kebutuhan, daya tarik, hingga faktor psikologis dalam diri yang serigkali tidak disadari.

Psikologi membentuk karakter seseorang sehingga dia menjadi unik. Keunikan ini juga berdampak pada pilihan-pilihannya dalam memenuhi kebutuhan.

Misalnya saja dari sekian banyak pasta gigi, seseorang memilih merk A dibanding merk B. Keputusan ini bisa didasari oleh macam-macam yang sebelumnya telah disebutkan. Oleh karena itu, kali ini Saya akan membahas apa saja faktor dalam perilaku konsumen?


1. Persepsi

Faktor psikologis dalam perilaku konsumen yang pertama adalah persepsi. Persepsi yang merupakan sebuah proses bagi seseorang untuk memilih, mengorganisir pikirannya, dan menafsirkan simbol-simbol untuk menjadi pesan yang akhirnya ditangkap oleh diri orang tersebut.

Dalam perilaku konsumen, persepsi menjadi faktor psikologis yang memengaruhi karena dengan adanya persepsi konsumen dapat menentukan selera hingga keputusan dalam mengonsumsi sesuatu.

Namun meskipun mendapatkan stimulus yang sama, konsumen satu dengan lainnya sangat mungkin untuk mempersepsika hal yang sama tersebut menjadi berbeda. Hal ini disebabkan persepsi memiliki tiga proses persepsual antara lain:

Perhatian Selektif

Tahapan ini menjelaskan bagaimana seseorang melakukan seleksi atas banyaknya informasi yag diterima sebagai bahan pertimbangan untuk mentukan perilaku.

Distorsi Selektif

Tahapan selanjutnya adalah distorsi selektif. Pada tahapan ini seseorang akan menginterpretasikan informasi yang ia terima sesuai dengan apa yang ia yakini. Keyakinan itu bisa terbentuk dari proses pembelajaran yang ia lalui selama ini.

Retensi Selektif

Yang terakhir adalah retensi selektif yang merupakan kecenderungan seseorang demi mempertahankan sikap dan kepercayaan mereka melalui informasi yang mereka terima.


2. Proses Belajar

Seperti yang banyak disebutkan sebelumnya bahwa manusia pada hakikatnya selalu belajar untuk mengembangkan diri mereka menjadi lebih baik. Dalam hal ini proses belajar juga menentukan bagaimana konsumen berperilaku.

Misalnya saja seorang perempuan yang membeli produk kecantikan merk A karena rekomedasi banyak orang. Namun setelah digunakan produk tersebut tidaklah cocok. Maka di sini proses belajar berperan dalam membentuk perilaku konsumen.

Pertama konsumen belajar untuk percaya berdasarkan testimony orang-orang. Lalu yang kedua konsumen belajar untuk lebih telili dan memperkaya pengalaman mereka untuk berkembang dan lebih selektif dalam memilih.


3. Kepercayaan

Bagaimana seseorang bisa percaya? Tentunya semua itu dibangun oleh proses belajar. Sebab kepercayaan adalah sebuah pemikiran yang sifatnya deksriptif dan terjalin secara perlahan.

Kepercayaan konsumen akan suatu produk akan mendorong dirinya untuk memutuskan dan memilih produk yang ingin digunakan. Dalam tahapan tertentu seseorang bahkan rela menyusahkan diri mereka sendiri hanya untuk mendapatkan produk yang sudah mereka percayai.


4. Motivasi

Motivasi merupakan salah satu faktor psikologis dalam perilaku konsumen. Sebab dengan adanya motivasi maka konsumen juga memiliki dorongan yang kuat terhadap suatu pilihan. Motivasi biasanya didukung oleh dua kebutuhan, yaitu biogenik da fisologis.

Biogenik adalah kebutuhan di mana indikatornya berdasarkan kebutuhan biologis seperti adanya rasa lapar, haus, atau lelah. Sedangkan kebutuhan fisologis adalah kebutuhan yang didasari faktor psikologis seperti keinginan untuk diakui, keinginan untuk terlihat baik, dan keinginan mempertahankan eksistensi.


5. Sikap

Setelah adanya keyakinan maka sikap untuk menentukan apa yang akan dipilih menjadi faktor psikologis dalam perilaku konsumen. Menuru Kotler, sikap merupakan kecenderungan konsisten untuk menyukai atau tidak atas sebuah ide dan juga objek.

Dalam penentuan sikap ada tiga komponen penting yang tidak boleh dilewatkan. Ketiga komponen itu antara lain sebagai berikut:

Komponen Kognitif: Komponen kognitif merupakan sebutan untuk setiap opini dan juga keyakinan dari sikap kita.

Komponen Afektif: Jika komponen kognitif merupakan bentuk dari opini, maka komponen afektif adalah komponen yang menitikberatkan pada emosional dari sikap yang terbentuk.

Komponen Perilaku: Seperti namanya hal ini merupakan bentuk konkret dari sikap seseorang. Bagaimana ia memilih untuk menanggapi sesuatu dengan pola tingkah yang dibuat.
Demikian penjelasan terkait apa saja faktor psikologis dalam perilaku konsumen yang bisa dijadikan acuan bagi para produsen, atau penjual agar mampu mengamati apa yang konsumen inginkan.


Strategi Pemasaran Dalam Keputusan Pembelian Perilaku Konsumen


Menurut Peter dan Olson (1999) strategi pemasaran dirancang untuk meningkatkan peluang dimana konsumen akan memiliki anggapan dan peranan positif terhadap produk, jasa dan merek tertentu, akan mencoba produk, jasa atau merk tersebut dan kemudian membelinya berulang-ulang.

Untuk mengembangkan strategi pemasaran yang kompetetif, pemasar perlu mengetahui konsumen mana yang membeli produknya, factor apa yang kira-kira menyebabkan mereka menyukai produk tersebut, criteria apa yang dipakai dalam memutuskan membeliproduk, bagaimana mereka memperolah informasi tentang produk dan lain sebagainya.

Pemasar perlu merancang strategi berdasarkan perilaku konsumen, yang tentu saja datanya hanya dapat diperoleh dari semua penelitian tentang perilaku konsumen; mulai dari bagaimana kebutuhan akan suatu produk tiu dirasakan, apa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan itu, bagaimana mereka memutuskan membeli produk, bagaimana mereka mengkonsumsi produk, sampai bagaimana mereka menyingkirkan produk tersebut dan apa yang dilakukan setelah itu.

Jadi, strategi pemasaran berlaku untuk produk dan merek tertentu dan pengaruh yang diberikan kepada konsumen untuk melakukan pembelian yang dirancang untuk tingkat produk ataupun merek. Agar perancang bisa merancang strategi yang tepat dalam mempengaruhi konsumen, dasar yang digunakan ahrus berupa pengetahuan mengenai perilaku mereka dalam proses beli yang dialami untuk suatu kategori produk tertentu pula.

1. Peran perilaku konsumen dalam segmenting dan targeting

Segmentasi pasar adalah proses identifikasi subkelompok konsumen yang memiliki kesamaan dalam nhal keinginan, daya beli, lokasi geografi, sikap membeli atau kebiasaan membeli (kotler,2000). Penelitian yang mendalam tentang konsumen bias menghasilkan identifikasi sedemikian khususnya, sehinggan konsumen dapat disegmentasi secara individu karena pada dasarnya tidak ada dua orang yang sama.

 Cara segmentasi ini disebut juga segmentasi mikro yang banyak dilakukan untuk produk-produk yang tidak begitu tersandarisasi, seperti jasa atau layanan tertentu. Perusahaan pada umumnya tidak melakukan hal tersebut karena memerlukan biaya yang besar. Mereka membuat segmentasi berdasarkan respons konsumen secara umum sehingga produk bias diproduksi secara missal menggunakan skala ekonomi untuk keuntungan maksimal.
Dalam segmentasi pasar, ada empat langkah yang harus diambil (Hawkins dkk, 1998):

1. Mengidentifikasi perangkat kebutuhan produk
2. Mengelompokkan konsumen yang memiliki perangkat kebutuhan yang serupa.
3. Mendeskripsikan setiap kebutuhan kelompok.
4. Memilih satu (atau lebih) segmen yang akan dilayani.

Identifikasi perangkat kebutuhan produk tentu saja memerlukan data cukup lengkap yang hanay didapatkan dari penelitian pasar. Data semacam itu diambil dari pengamatan dan pendapat-pendapat konsumen dan cara mereka memenuhi kebutuhan. Data ini dikaitkan dengan berbagai variable seperti usia, jenis kelamin, kelas social, dan sebagainya.

Dalam hal ini, data menunjukkan perilaku yang berbeda antara kelompok satu dengan yang lain. Setelah itu dapat diidentifikasi pula subkelompok konsumen yang memiliki perangkat kebutuhan yang serupa.

Targeting merupakan langhkah untuk memilih satu (atau lebih) segmen yang dapat dilayani dengan baik, sehingga semua usaha pemasaran dapat difokuskan pada segmen ini untuk keuntungan yang menjanjikan. Perusahaan dapat melayani segmen sasaran dengan baik bila kiat-kiat yang dirancang sesuai dengan kemampuan perusahaan itu.

 Kadang-kadang dalam proses segmentasi initeridentifikasi juga segmenyang khas walaupun kecil. Segmen kecil ini seringkali sangat sesuai dengan kemampuan Perusahaan dan mempunyai potensi yang besar untuk penetapan harga premium. Jelasalah bahwa segmenting dan tergetingtidak bias terlepas dari pemahaman tentang perilaku konsumen, bahkan tampak jelasa sekali bahwa segmenting dan targeting selalu didasarkan pada penelitian perilaku konsumen.


2. Perilaku konsumen dan positioning produk

Dalam usaha membuuat positioning produk yang tepat, perusahaan/pemasar tidak dapat mengabaikan perilaku konsumen, terutama konsumen sasarannya.

Tugas Final Mk Manajemen Strategis

Tugas Final Mk Manajemen Strategis


NAMA : RIZKI NURWAHYUDIN
NIM : 17120011
PRODI : EKONOMI MANAJEMEN
MK : MANAJEMEN STRATEGIS


CSR DI PERUSAHAAN PT. Sinar Mas



Selama bertahun-tahun, Sinarmas Agribusiness and Food telah memulai beberapa kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di wilayah Siak seperti: perawatan medis gratis (kerjasama dengan Tzu Chi Foundation), bantuan perlengkapan sekolah, program beasiswa untuk perguruan tinggi (kerjasama dengan Institut Pertanian Instiper dan Institut Teknologi dan Sains Bandung ITSB), serta bazaar minyak goreng murah setiap bulan Ramadhan.
Ibarat pepatah “Beri seseorang seekor ikan maka ia dapat makan untuk sehari, ajari dia memancing maka ia dapat makan seumur hidup”, sebagian besar kegiatan CSR ini bertujuan untuk membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan mereka dan mengajarkan mereka bekerjasama memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Sejauh ini, kami telah memperkenalkan budidaya tanaman (jahe merah, jagung) serta hewan ternak (kambing Etawa, ayam potong dan ikan lele) kepada mereka. Salah satu program CSR yang paling sukses adalah program pengembangbiakan kambing bergulir yang telah dijalankan oleh anak perusahaan kami PT Ivo Mas Tunggal (IMT) sejak tahun 2016.

Petugas lapangan IMT bersama salah seorang peternak.

Kambing adalah salah satu hewan ternak yang paling umum bagi masyarakat Indonesia dan relatif mudah untuk diternakkan. Memandang seekor kambing dewasa memiliki nilai ekonomi 3-4 juta rupiah, program ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat di 11 desa yang berada di sekitar perkebunan IMT di wilayah Siak. Program ini dimulai dengan pengembangbiakan 100 anak kambing Etawa pada 2014 oleh perusahaan. Begitu IMT berhasil mengumpulkan 200 kambing dewasa pada 2016, perusahaan memulai rotasi kambing di antara desa-desa yang terlibat.
Cara kerja program ini adalah sebagai berikut. Setiap desa membentuk satu kelompok peternak yang terdiri dari 10 orang anggota berdasarkan rekomendasi dari kepala desa. Perusahaan kemudian menggulirkan 20 ekor kambing muda (16 betina dan 4 jantan) usia 9 bulan kepada setiap kelompok peternak untuk dikembangbiakkan. Dua puluh anak kambing pertama yang lahir dari tiap kelompok akan dikembalikan ke perusahaan setelah berusia 7 bulan.
Kambing-kambing muda ini dibesarkan di lokasi pembiakan milik perusahaan hingga berusia 9 bulan, dan kemudian siklus ini dimulai kembali dengan pengguliran 20 kambing muda berikutnya kepada desa selanjutnya. Pola ini berulang hingga semua desa binaan mendapatkan gilirannya. Diharapkan dalam kurun waktu dua tahun, setiap desa dapat mengembalikan 20 anak kambing kepada perusahaan.

Perwakilan IMT bersama warga desa Sam Sam di depan kandang kambing mereka.

IMT juga memberikan bantuan bahan bangunan untuk 1 unit kandang dan 1 unit pompa air untuk peternak di setiap desa. Selain itu, IMT juga menyediakan perawatan hewan ternak seperti imunisasi, obat dan vitamin untuk kambing-kambing tersebut selama dua tahun. Petugas lapangan dan petugas pembiakan juga berkunjung secara rutin untuk memberikan pelatihan budidaya kambing dan memfasilitasi pembagian tugas.
Terlepas dari tujuan utama untuk mendukung kebutuhan ekonomi desa binaan, program ini juga membantu para peternak untuk membangun kerjasama demi keuntungan bersama, lewat semangat gotong royong.

Perwakilan IMT bersama warga desa Libo Jaya.

Hingga Juni 2018, delapan desa telah berpartisipasi dalam program ini, enam di antaranya telah mengembalikan anak kambing sedangkan dua desa lainnya baru memulai pengembangbiakan. Tiga desa lainnya akan memulai program rotasi kambing mereka pada akhir tahun ini. Berdasarkan umpan balik positif dari masyarakat dan pemerintah setempat, perusahaan berencana untuk meluncurkan program ini di wilayah lainnya (Kampar) pada tahun 2019 dan 2020.

Diskusi antara petugas CSR IMT dengan kelompok peternak kambing.

Program Mata Pencaharian Alternatif adalah cara lain kami memberdayakan masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Baca selengkapnya di sini.
Septianus Harianja adalah Region Controller dari PT Ivo Mas Tunggal untuk wilayah Siak. Ia bergabung dengan Sinar Mas Agribusiness and Food sebagai Field Assistant pada 1992 dan telah bekerja untuk perusahaan selama 26 tahun terakhir.
Joni Jupesta adalah seorang Senior Researcher di Sinar Mas Agribusiness and Food. Penelitiannya berpusat pada interaksi antara manusia dan lingkungan serta ekonomi melingkar

Kategori

Kategori